Usia Modal Berharga Manusia

1 Jan

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (Q.S. Al Ashr 2)

Ada sebuah ilustrasi yang menarik untuk kita renungkan bersama. Kesibukan dunia membuat kita termasuk orang-orang yang merugi. Kita membuang-buang waktu kita yang berharga dengan percuma. Jika ada seorang pemuda yang membelanjakan banyak warisan dari orang tuanya tanpa de…ngan perhitungan yang matang. Bagaimana menurut pandangan kita? Pasti kita akan menyayangkan tindakan pemuda tersebut. Bahkan kita mungkin akan menganggap bodoh pemuda tersebut. Sekarang kita perhatikan diri kita, jangan-jangan kita lupa dan tanpa disadari kita seringkali bersikap seperti yang dilakukan pemuda tersebut. Kita seringkali menghabiskan modal berharga yang kita miliki hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak berarti.  Apakah modal manusia yang paling bernilai? Tidak diragukan lagi itulah usia. Bukankah usia merupakan modal yang paling besar bagi manusia. Nabi Muhammad saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.”.

Bila kita perhatikan dengan cermat, manusia adalah pengendara di atas punggung usia. Ia menempuh perjalanan hidupnya sehari-hari, menjauhi dunia dan mendekati liang kubur. Dalam hal ini banyak yang mendekati dunia yang akan meninggalkannya dan menjauhi akhirat yang akan mendekatinya. Kenapa banyak manusia yang mudah menangis apabila kehilangan harta bendanya, sebaliknya tidak pernah menangis bila usianya yang berkurang. Bukankah yang paling berharga bagi manusia adalah usianya. Ironisnya kehilangan usia ini malah sering dirayakan dengan pesta yang semarak. Barangkali inilah satu-satunya kebodohan manusia yang bersifat universal yaitu merayakan dengan meriah kehilangan sesuatu yang berharga bagi dirinya. Padahal kita semua mengerti semua yang hilang ini tak akan pernah kembali lagi.

Ada lagi yang aneh dari diri kita, yaitu kita mau berjuang mati-matian mengorbankan segala sesuatu yang kita miliki demi mendapatkan sesuatu yang belum pasti.  Sementara untuk sesuatu yang pasti akan terjadi kita hadapi dengan usaha yang sekedarnya saja.  Bukankah satu-satunya kepastian bagi manusia itu hanyalah kematian. Tidakkah kita sadari bahwa kita sedang berkarya di hari-hari yang pendek untuk hari-hari yang panjang. Lalu mengapa kita cenderung membangun istana duniawi sedangkan istana akhirat kita abaikan. Bila kita sadar tujuan hidup kita di dunia, maka pastilah kita menjadikan usia sebagai sesuatu yang berharga. Usia tak akan pernah bisa dibeli oleh sesuatu apapun di dunia ini, oleh sebab itu maka usia harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sudahkah amal kita bertambah dengan seiring berkurangnya usia?

Mengapa kita membiarkan usia kita berlalu begitu saja tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Apakah sudah sedemikian parahnya kebodohan kita, sehingga rela menghabiskan modal berharga kita untuk sesuatu yang tidak bernilai. Bukankah kita harus mempertanggungjawabkan seluruh usia kita.

“Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al Mu’minuun 112-115)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: