Senyummu Terlarutkan Hujan

9 Jan

 

                Hari mulai beranjak senja dan langit tak menampakkan indahnya lembayung senja, hanya ada awan-awan hitam yang bergelayutan di sana. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun berkunjung ke bumi ini. Aku pun terus melangkah sendiri meninggalkan tempat yang biasa aku kunjungi hampir setiap hari yaitu kantor redaksi majalah Valero. Tempat itu adalah tempat aku mengeluarkan hasil pemikiran dan perasaanku karena di sanalah hasil karyaku dihargai dengan materi karena aku adalah seorang pencari berita.

Tiba-tiba saja ada tetesan air hujan yang membasahi keningku lalu mengalir melewati mata dan pipiku hingga akhirnya menetes ke tanah. Tampaknya hujan sudah mulai turun dan mungkin akan semakin banyak air hujan yang ingin turun ke bumi. Aku pun segera mencari tempat untuk berlindung dari segerombolan tetesan hujan yang mungkin akan terus menyerangku jika aku melanjutkan perjalananku. Aku pun memilih sebuah kafe kecil yang tampaknya terlihat ramai. Kafe itu ternyata mempunyai nama Al Ma’idah setelah aku melihat sebuah papan kecil yang tergantung di depan pintu masuknya. Al Ma’idah mungkin nama itu diambil dari salah satu nama surat di Al Qur’an karena memang artinya hidangan atau mungkin itu nama pemiliknya Ma Idah? Sudahlah. Aku pun duduk di meja kosong di pojok kafe itu karena Cuma meja itu lah yang tersisa.

“Mau pesan apa Kang ?” tanya seorang wanita yang siap menuilskan pesananku.

“Pesan teh manis saja satu.”

“Cuma itu saja Kang?”

“Kelihatannya itu saja dulu.”

“Oh, tunggu sebentar ya !”

Pelayan wanita itu pun pergi meninggalkanku untuk membuatkan pesananku. Hujan pun memang semakin membesar. Aku memang menyukai hujan karena suara turunnya hujan itu memberikan irama yang harmonis. Jika mendengarnya dapat membuat hati merasa tentram. Apalagi jika hujan itu turun di malam hari, lengkaplah sudah romantisme malam itu.

“Ini kang, teh manisnya.”

“Nuhun.”

“Sami-sami Kang,” kata pelayan wanita itu lalu pergi.

Terlihat di depan pintu kafe ini ada seorang wanita berkerudung biru tampaknya kehujanan dan ia pun masuk ke kafe ini. Wanita itu kebingungan mencari tempat duduk yang kosong. Ia pun berjalan ke arah mejaku yang memang ada satu kursi yang kosong.

“Boleh saya duduk di sini ?” tanya wanita itu kepadaku sambil tersenyum.

Aku pun terpesona melihat senyumannya yang memang manis sekali. Bahkan senyumannya lebih manis daripada teh manis yang ada di hadapanku.

“Oh, silahkan saja, ini kosong kok.”

“Terima kasih,” katanya sambil menggeser kursi yang akan didudukinya.

Aku sebenarnya ingin berkenalan dengannya, namun aku juga malu karena aku itu pemalu apalagi dengan wanita. Tapi kalau aku tak berkenalan dengannya nanti akan timbul penyesalan. Aku pun ragu dan bimbang. Akhirnya aku memberanikan diri karena kelihatannya wanita ini sangat ramah.

“Habis dari mana Teh? Kok sampai kehujanan begitu?” tanyaku pada wanita itu.

“Habis pulang kuliah Kang. Tadi tiba-tiba hujan di tengah jalan.”

“Oh, memangnya kuliah di mana?”

“Di Universitas Sri Baduga.”

“Di sana ambil jurusan apa?”

“Kedokteran Kang. “

“Wow, calon dokter dong. Oh iya lupa, nama saya Ibrahim Ahmad, panggil saja Baim.”

“Hehe.. Saya Sarah kang, lengkapnya Sarah Salsabila.

“Teh Sarah mau pesan apa? Nanti saya panggilkan dulu pelayannya.”

Aku pun mengangkat dan melambaikan tanganku untuk memanggil pelayan. Pelayan itu pun segera merespon isyarat dariku dan datang menghampiri.

“Ada apa Kang ?” tanya pelayan itu.

“Teteh ini mau pesan sesuatu,” kataku sambil telunjukku mengarah kepada Sarah.

“Mau pesan apa Teh ?” pelayan itu bertanya.

“Susu hangat saja.”

“Tunggu sebentar ya ! Nanti dibuatkan dulu.”

“Iya, terima kasih.”

Pelayan itu pun pergi meninggalkan kami berdua di meja pojokan kafe ini. Aku pun memulai kembali pembicaraanku yang sempat tertunda dengan Sarah.

“Beda ya, kalau calon dokter minumnya susu.”

“Ah, yang bukan calon dokter juga minumnya susu Kang.”

“Iya deh kalau begitu. Sekarang sudah semester berapa?”

“Baru semester delapan.”

“Sebentar lagi dong.”

“Sebentar itu relatif Kang. Tergantung yang menjalaninya.”

“Iya juga ya. Teh Sarah tinggalnya di mana ?”

“Aslinya sih dari Lembang, di Bandung tinggal sama saudara.”

“Oh, begitu. Maaf ya banyak tanya.”

“Nggak apa-apa Kang, supaya nggak bosan.”

Susu hangat pesanan Sarah pun telah tiba diantarkan oleh pelayan. Pelayan itu menyimpannya di atas meja kami.

“Ini susu hangatnya Teh.”

“Nuhun.” kata Sarah.

“Sami-sami Teh.”

Pelayan itu kembali meninggalkan kami setelah itu. Sarah pun meminum sedikit susu hangat yang dipesannya sambil menawarkannya padaku.

“Minum dulu Kang,” sambil memegang erat gelasnya.

“Silahkan,” aku pun meminum teh manisku.

“Kang Baim kerja di mana ?”

“Di majalah Valero, jadi pencari berita.”

“Oh, jadi yang tanya aku sekarang itu wartawan ya. Jangan dimasukkan ke majalah ya. Haha..”

“Dimasukkan nggak ya ? Nggak lah, aku kan bukan pencari berita gosip. Haha..”

Kami pun semakin terjerumus ke dalam pembicaraan yang awalnya tak tahu arah. Namun setelah mulai ternyata arah pembicaraan kami pun seakan-akan sudah terkonsep dari awal. Itu semua mungkin karena senyuman Sarah yang telah mencairkan hatiku yang beku.

Hujan pun mulai sedikit berkurang, tak banyak lagi tetesan air hujan yang ingin berkunjung ke bumi. Para pengunjung pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan kafe ini. Sarah pun melihat keadaan di luar dan ia pun berpamitan padaku.

“Hujannya sudah sedikit reda Kang. Sarah mau pulang dulu takut terlalu malam.”

“Silahkan, hati-hati di jalan ya Teh.”

“Nuhun Kang.”

“Sama-sama Teh.”

Sarah pun mampir dulu ke kasir untuk membayar apa yang telah diminumnya tadi. Setelah itu pun ia pergi menuju pintu keluar kafe ini. Aku pun hanya memperhatikannya saja karena memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku pun tersadar kenapa tidak meminta nomor telepon, alamat e-mail atau pun akun jejaring sosialnya agar bisa terus berhubungan. Yang aku tahu tentang Sarah hanyalah namanya, asalnya, tempat kuliahnya serta senyumnya yang kini telah larut bersama hujan. Sudahlah bila memang sudah ditakdirkan, mungkin kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan. Aku pun beranjak pergi dari kafe ini setelah tentunya membayar teh manis yang telah melengkapi pertemuanku dengan Sarah yang mengesankan. Semoga itu bukanlah pertemuanku yang pertama dan terakhir kalinya.

2 Tanggapan to “Senyummu Terlarutkan Hujan”

  1. Lisna Wati 9 Januari 2014 pada 9:34 AM #

    Terimakasih telah posting cerita ke email ku ,,

    saya juga pengen banget bisa bikin sebuah karangan seperti saudara

    namun karena tidak begitu paham bagaiman langkah- langkahnya

    mohon untuk bimbingan nya

      Best Regards, lisna PT. CIPTAHASIL SUGIARTO Jl. Raya Pegangsaan Dua No. 159, Kelapa Gading Jakarta Utara 14250, INDONESIA Phone          :  +62-21-4611-769 (hunting) Fax                :  +62-21-4682-9077

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: