Arsip | Uncategorized RSS feed for this section
28 Mei

Da Aku Mah Apa Atuh

View on Path

Senyummu Terlarutkan Hujan

9 Jan

 

                Hari mulai beranjak senja dan langit tak menampakkan indahnya lembayung senja, hanya ada awan-awan hitam yang bergelayutan di sana. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun berkunjung ke bumi ini. Aku pun terus melangkah sendiri meninggalkan tempat yang biasa aku kunjungi hampir setiap hari yaitu kantor redaksi majalah Valero. Tempat itu adalah tempat aku mengeluarkan hasil pemikiran dan perasaanku karena di sanalah hasil karyaku dihargai dengan materi karena aku adalah seorang pencari berita.

Tiba-tiba saja ada tetesan air hujan yang membasahi keningku lalu mengalir melewati mata dan pipiku hingga akhirnya menetes ke tanah. Tampaknya hujan sudah mulai turun dan mungkin akan semakin banyak air hujan yang ingin turun ke bumi. Aku pun segera mencari tempat untuk berlindung dari segerombolan tetesan hujan yang mungkin akan terus menyerangku jika aku melanjutkan perjalananku. Aku pun memilih sebuah kafe kecil yang tampaknya terlihat ramai. Kafe itu ternyata mempunyai nama Al Ma’idah setelah aku melihat sebuah papan kecil yang tergantung di depan pintu masuknya. Al Ma’idah mungkin nama itu diambil dari salah satu nama surat di Al Qur’an karena memang artinya hidangan atau mungkin itu nama pemiliknya Ma Idah? Sudahlah. Aku pun duduk di meja kosong di pojok kafe itu karena Cuma meja itu lah yang tersisa.

“Mau pesan apa Kang ?” tanya seorang wanita yang siap menuilskan pesananku.

“Pesan teh manis saja satu.”

“Cuma itu saja Kang?”

“Kelihatannya itu saja dulu.”

“Oh, tunggu sebentar ya !”

Pelayan wanita itu pun pergi meninggalkanku untuk membuatkan pesananku. Hujan pun memang semakin membesar. Aku memang menyukai hujan karena suara turunnya hujan itu memberikan irama yang harmonis. Jika mendengarnya dapat membuat hati merasa tentram. Apalagi jika hujan itu turun di malam hari, lengkaplah sudah romantisme malam itu.

“Ini kang, teh manisnya.”

“Nuhun.”

“Sami-sami Kang,” kata pelayan wanita itu lalu pergi.

Terlihat di depan pintu kafe ini ada seorang wanita berkerudung biru tampaknya kehujanan dan ia pun masuk ke kafe ini. Wanita itu kebingungan mencari tempat duduk yang kosong. Ia pun berjalan ke arah mejaku yang memang ada satu kursi yang kosong.

“Boleh saya duduk di sini ?” tanya wanita itu kepadaku sambil tersenyum.

Aku pun terpesona melihat senyumannya yang memang manis sekali. Bahkan senyumannya lebih manis daripada teh manis yang ada di hadapanku.

“Oh, silahkan saja, ini kosong kok.”

“Terima kasih,” katanya sambil menggeser kursi yang akan didudukinya.

Aku sebenarnya ingin berkenalan dengannya, namun aku juga malu karena aku itu pemalu apalagi dengan wanita. Tapi kalau aku tak berkenalan dengannya nanti akan timbul penyesalan. Aku pun ragu dan bimbang. Akhirnya aku memberanikan diri karena kelihatannya wanita ini sangat ramah.

“Habis dari mana Teh? Kok sampai kehujanan begitu?” tanyaku pada wanita itu.

“Habis pulang kuliah Kang. Tadi tiba-tiba hujan di tengah jalan.”

“Oh, memangnya kuliah di mana?”

“Di Universitas Sri Baduga.”

“Di sana ambil jurusan apa?”

“Kedokteran Kang. “

“Wow, calon dokter dong. Oh iya lupa, nama saya Ibrahim Ahmad, panggil saja Baim.”

“Hehe.. Saya Sarah kang, lengkapnya Sarah Salsabila.

“Teh Sarah mau pesan apa? Nanti saya panggilkan dulu pelayannya.”

Aku pun mengangkat dan melambaikan tanganku untuk memanggil pelayan. Pelayan itu pun segera merespon isyarat dariku dan datang menghampiri.

“Ada apa Kang ?” tanya pelayan itu.

“Teteh ini mau pesan sesuatu,” kataku sambil telunjukku mengarah kepada Sarah.

“Mau pesan apa Teh ?” pelayan itu bertanya.

“Susu hangat saja.”

“Tunggu sebentar ya ! Nanti dibuatkan dulu.”

“Iya, terima kasih.”

Pelayan itu pun pergi meninggalkan kami berdua di meja pojokan kafe ini. Aku pun memulai kembali pembicaraanku yang sempat tertunda dengan Sarah.

“Beda ya, kalau calon dokter minumnya susu.”

“Ah, yang bukan calon dokter juga minumnya susu Kang.”

“Iya deh kalau begitu. Sekarang sudah semester berapa?”

“Baru semester delapan.”

“Sebentar lagi dong.”

“Sebentar itu relatif Kang. Tergantung yang menjalaninya.”

“Iya juga ya. Teh Sarah tinggalnya di mana ?”

“Aslinya sih dari Lembang, di Bandung tinggal sama saudara.”

“Oh, begitu. Maaf ya banyak tanya.”

“Nggak apa-apa Kang, supaya nggak bosan.”

Susu hangat pesanan Sarah pun telah tiba diantarkan oleh pelayan. Pelayan itu menyimpannya di atas meja kami.

“Ini susu hangatnya Teh.”

“Nuhun.” kata Sarah.

“Sami-sami Teh.”

Pelayan itu kembali meninggalkan kami setelah itu. Sarah pun meminum sedikit susu hangat yang dipesannya sambil menawarkannya padaku.

“Minum dulu Kang,” sambil memegang erat gelasnya.

“Silahkan,” aku pun meminum teh manisku.

“Kang Baim kerja di mana ?”

“Di majalah Valero, jadi pencari berita.”

“Oh, jadi yang tanya aku sekarang itu wartawan ya. Jangan dimasukkan ke majalah ya. Haha..”

“Dimasukkan nggak ya ? Nggak lah, aku kan bukan pencari berita gosip. Haha..”

Kami pun semakin terjerumus ke dalam pembicaraan yang awalnya tak tahu arah. Namun setelah mulai ternyata arah pembicaraan kami pun seakan-akan sudah terkonsep dari awal. Itu semua mungkin karena senyuman Sarah yang telah mencairkan hatiku yang beku.

Hujan pun mulai sedikit berkurang, tak banyak lagi tetesan air hujan yang ingin berkunjung ke bumi. Para pengunjung pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkan kafe ini. Sarah pun melihat keadaan di luar dan ia pun berpamitan padaku.

“Hujannya sudah sedikit reda Kang. Sarah mau pulang dulu takut terlalu malam.”

“Silahkan, hati-hati di jalan ya Teh.”

“Nuhun Kang.”

“Sama-sama Teh.”

Sarah pun mampir dulu ke kasir untuk membayar apa yang telah diminumnya tadi. Setelah itu pun ia pergi menuju pintu keluar kafe ini. Aku pun hanya memperhatikannya saja karena memang hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku pun tersadar kenapa tidak meminta nomor telepon, alamat e-mail atau pun akun jejaring sosialnya agar bisa terus berhubungan. Yang aku tahu tentang Sarah hanyalah namanya, asalnya, tempat kuliahnya serta senyumnya yang kini telah larut bersama hujan. Sudahlah bila memang sudah ditakdirkan, mungkin kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan. Aku pun beranjak pergi dari kafe ini setelah tentunya membayar teh manis yang telah melengkapi pertemuanku dengan Sarah yang mengesankan. Semoga itu bukanlah pertemuanku yang pertama dan terakhir kalinya.

Stand Up Comedy

11 Jan

Stand Up Comedy saat ini sedang marak di televisi Indonesia. Bahkan banyak bermunculan komunitas-komunitas Stand Up Comedy yang selalu mengadakan open mic setiap minggunya atau bahkan setiap harinya. Sehingga banyak sekali comic-comic baru yang bermunculan tampil disetiap acara open mic. Penonton yang berminat untuk menontonnya pun semakin banyak karena Stand Up Comedy ini adalah komedi menghibur yang dibawakan secara cerdas.

Stand Up Comedy adalah bentuk dari seni komedi atau melawak yang dipertunjukkan kepada penonton secara langsung dengan seorang komedian di atas panggung sebagai komunikatornya. Dalam sejarahnya, Stand Up Comedy sendiri telah ada si abad ke 18 di Eropa dan Amerika. Pelaku atau komedian ini biasa disebut dengan “stand up comic” atau “comic”. Para comic ini biasanya memberikan beragam cerita humor, lelucon pendek atau kritik-kritik berupa sindiran terhadap sesuatu hal yang sifatnya cenderung umum dengan sajian gerakan yang penuh ekspresi dan gaya bertutur yang seringkali cepat. Beberapa komik pun bahkan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan performa mereka di atas panggung. Stand Up Comedy biasanya dilakukan di kafe, bar, universitas dan teater.

Tidaklah mudah untuk menjadi komik atau pelaku Stand Up Comedy ini. Selain harus bisa melucu, tekanan mental pun hadir menyelimuti diri Anda yang ingin menjadi komik di atas panggung. Jika lelucon yang Anda berikan tidak dimengerti atau bahkan tidak dianggap lucu, para audiens yang menonton diri Anda diatas panggung tentu tidak akan tertawa dan –lebih parah lagi- bisa mencibir Anda yang sedang atau telah beraksi di atas panggung. Dan tentu, itu merupakan tantangan terbesar bagi seorang comic.

Dalam Stand Up Comedy, comic harus memiliki konsep atau materi sebagai bahan untuk lawakannya. Dan bukan hal yang tidak mungkin jika ada lawakan yang berbentuk rasis, jorok serta vulgar hadir di Stand Up Comedy ini. Mereka biasanya membuat skrip untuk itu dan catatan-catatan kecil agar memudahkan mereka dalam berkomedi. Di luar negeri ada banyak comic terkenal, contohnya adalah Jerry Seinfield, Eddie Izzard, Akmal Saleh, Daniel Tosh dll. Anda mungkin juga tahu aktor-aktor Hollywood terkenal seperti Woody Allen, Rowan Atkinson, Chris Rock, Will Ferrel dan Jim Carrey yang ternyata pernah bergelut di bidang ini. Rata-rata dari mereka, para bintang Hollywood itu mengawali karir dan jatuh bangun dulu di dunia Stand Up Comedy sebelum akhirnya terkenal seperti sekarang ini.

Di Indonesia sendiri, Stand Up Comedy juga sebenarnya telah ada dari zaman dulu kala. Nama-nama terkenal seperti (alm.) Taufik Savalas, Butet Kertaradjasa dan Ramon P. Tommybens telah lama berkiprah dalam Stand Up Comedy di Indonesia. Era belakangan ini, muncul nama-nama seperti Iwel, Pandji Pragiwaksono, Sammy D. Putra dan Raditya Dika. Namun mungkin di Negara ini masyarakat cenderung lebih suka akan “physical comedy” ketimbang Stand Up Comedy ini. Walaupun dulu popularitasnya berkurang, kini Stand Up Comedy telah melambungkan namanya kembali di muka publik. Ketika dulu sempat timbul-tenggelam karena pertunjukannya yang kurang di ekspos, sekarang Stand Up Comedy telah sedikit demi sedikit memperlihatkan daya tariknya lagi. Terbukti, beberapa waktu yang lalu, Stand Up Comedy muncul kembali di acara stasiun televisi Indonesia.

Perbedaan Lelaki dan Perempuan

9 Feb


Lelaki melakukan lebih banyak daripada apa yang dapat dilakukan perempuan, sedangkan perempuan melakukan apa yang lebih banyak daripada apa yang berani dilakukan lelaki.

Lelaki dikenal dari apa yang tidak dia lakukan, dan perempuan dikenal dari apa yang dia lakukan.

Dalam bercinta, lelaki berbangga dengan kemenangannya meraih perempuan, sedangkan perempuan berhias dengan ketaklukannya di hadap lelaki. Lelaki berbangga dengan mengatakan : “Aku telah menaklukkan perempuan A, B dan C”, dan perempuan berbangga dengan mengatakan : “Aku telah menolak lelaki A, B dan C”.

Ketika seorang lelaki menangis di hadap perempuan, sesungguhnya ia telah menyentuh keangkuhan perempuan itu, dan ketika seorang perempuan menangis di hadapan lelaki, sesungguhnya ia telah menimbulkan rasa iba lelaki kepadanya.

Kenikmatan perempuan diperoleh ketika berhasil menghancurkan hati lelaki, sedangkan kenikmatan lelaki diperoleh ketika dia mampu memuaskan keangkuhan perempuan.

Kebahagiaan di sisi lelaki adalah sukses dalam pekerjaan, sedangkan bagi perempuan adalah sukses bersama lelaki.

Di balik setiap perempuan sukses, terdapat cinta yang gagal, dan di belakang setiap lelaki yang sukses, terdapat perempuan yang dicintai.

Yang terakhir mati pada lelaki adalah hatinya dan pada perempuan adalah lidahnya. Lidah lelaki bagaikan pisau, sedangkan lidah perempuan seperti pedang.

Perempuan menginginkan anak yang menyerupai kekasihnya, sedangkan lelaki menginginkan anak yang serupa dengannya, bukan yang serupa istrinya. Ini karena lelaki ingin mengulangi wujudnya dan perempuan ingin mengulangi kekasihnya.

Semua jenis pujian menggetarkan hati perempuan, tetapi tidak semua pujian menyentuh hati lelaki.

Perempuan membinasakan akal lelaki, sedangkan lelaki meremukkan hati perempuan.

Harapan lelaki kiranya menjadi keras bagaikan es, sedangkan harapan perempuan menjadi air lalu menguap seperti udara.

Perempuan menganggap pernikahan sebagai stasiun terakhir dalam perjalanan hidupnya, sedangkan lelaki memandangnya sebagai salah satu stasiun pilihan, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanannya.

Perempuan tidak melupakan ciuman pertama, sedangkan lelaki melupakan ciuman terakhir.

Mudah bagi lelaki menutup matanya, tetapi mustahil bagi perempuan menutup telinganya.

Dahulu orang berkata : “Tiga sifat lelaki yang terbaik tetapi itulah yang terburuk buat perempuan. Tiga sifat tersebut adalah bearni, rendah hati dan tangan terbuka. Tiag sifat terbaik perempuan tetapi itu yang terburuk buat lelaki adalah tinggi hati, sangat hati-hati, dan tangan tertutup”.

Lelaki adalah penderitaan cinta, sedangkan perempuan adalah cinta penderitaan.

Lelaki memahami apa yang dia dengar, sedangkan perempuan mendengar apa yang dia tidak pahami.

Lelaki senang berpindah-pindah bagaikan wisatawan, sedangkan perempuan sedang menetap bagaikan penduduk asli.

Ketika lelaki merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang mendorongnya agar ia maju ke depan. Ketika perempuan merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang menopangnya dari belakang agar tidak terjatuh.

Tuhan menciptakan lelaki dari tanah agar ia dapat menanam di bumi dan membangun di atas bumi rumah-rumah untuk tempat tinggal. Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk lelaki agar dia dapat mendorong lelaki dari bumi ini dan mengusirnya dari rumah yang dibangun lelaki itu.

Lelaki sering kali tidak mengetahuikapan mengucapkan kata perpisahan bagi perempuan, sedangkan perempuan seringkali tidak mengetahui kapan ia harus berpisah.

Ketika lelaki berbicara tentang kebebasan, yang dimaksud adalah kebebasannya dari perempuan. Ketika perempuan berbicara tentang keikhlasan, yang dimaksud adalah keikhlasan lelaki kepadanya.

Lelaki cepat jatuh cinta, sedangkan perempuan lebih cepat membenci.

Lelaki yang tidak tampan, dapat menemukan perempuan yang mencintainya, sedangkan perempuan yang tidak cantik, tidak menemukan lelaki yang mencintainya. Ini karena perempuan ketika bercinta tidak bertanya apakah lelaki teman kencannya sudah mencukur jenggotnya atau tidak, tetapi lelaki yang bercinta tidak akan mencium perempuan yang berjenggot.

Perempuan lebih senang menikah dengan lelaki yang kaya walaupun banyak bicara daripada yang pendiam tapi miskin, sedangkan lelaki lebih senang menikah dengan perempuan yang pendiam walaupun miskin daripada yang kaya tapi banyak bicara.

Ketika bercinta, lelaki berusaha mengangkat perempuan dari peringkat lelaki, tetapi perempuan lebih senang turun ke tingkat lelaki yang dia senangi. Dengan demikian, lelaki ketika bercinta mengangkat sedangkan perempuan menurun.

Kalau dua orang lelaki bertengkar, sering kali penyebabnya adalah perempuan, sedangkan bila dua orang perempuan bertengkar, biasanya penyebabnya juga perempuan.

Lelaki menangis atas apa yang hilang darinya, sedangkan perempuan menangis atas apa yang tidak dia peroleh.

Lelaki letih mencari ketenangan, sedangkan perempuan tidak tenang kecuali dengan mencari keletihan.

Ketika seorang perempuan menikah untuk kedua kalinya, itu karena dia membenci suaminya yang pertama, sedangkan ketika seorang lelaki menikah untuk kedua kalinya, itu karena dia mencintai istrinya yang pertama. Karena itu, perempuan mencoba nasibnya dan lelaki berspekulasi.

Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.

taken from Perempuan, karya Quraish Shihab